NAMA
: Rekha Nurmala Zeni
1123070090
MKS/III/C
PEMBAHASAN
FORECASTING (PERAMALAN)
FORECASTING (PERAMALAN)
Salah
satu keputusan penting dalam perusahaan yang dilakukan oleh manajemen adalah
menentukan tingkat produksi dari barang atau jasa yang perlu disiapkan untuk
masa datang. Penentuan tingkat produksi, yang merupakan tingkat penawaran yang
dipengaruhi oleh jumlah permintaan pasar yang dapat dipenuhi oleh perusahaan.
Tingkat penawaran yang lebih tinggi dari permintaan pasar dapat mengakibatkan
terjadinya pemborosan biaya, seperti biaya penyimpanan, biaya modal, dan biaya
kerusakan barang. Tingkat penawaran yang lebih rendah dibandingkan dengan
kemampuan pangsa pasar yang dapat diraih mengakibatkan hilangnya kesempatan
untuk memperoleh keuntungan, bahkan mengakibatkan hilangnya pelanggan karena
beralih ke pesaing.
Untuk membantu tercapainya suatu
keputusan yang optimal diperlukan adanya suatu cara yang tepat, sistematis dan
dapat dipertanggungjawabkan. Salah satu alat yang diperlukan oleh manajemen dan
merupakan bagian dari proses pengambilan keputusan adalah metode Peramalan
(Forecasting). Metode peramalan digunakan untuk mengukur atau menaksir keadaan
di masa datang. Peramalan tidak saja dilakukan untuk menentukan jumlah produk
yang perlu dibuat atau kapasitas jasa yang perlu disediakan, tetapi juga
diperlukan untuk berbagai bidang lain (seperti dalam pengadaan, penjualan,
personalia, termasuk peramalan teknologi, ekonomi ataupun perubahan
sosial-budaya). Dalam setiap perusahaan, bagian yang satu selalu mempunyai
keterkaitan dengan bagian lain sehingga suatu peramalan yang baik atau buruk
akan mempengaruhi perusahaan secara keseluruhan.
Kebutuhan akan peramalan semakin
bertambah sejalan dengan keinginan manajemen untuk memberikan respon yang cepat
dan tepat terhadap kesempatan di masa datang, serta menjadi lebih ilmiah dalam
menghadapi lingkungan. Oleh karena itu, penguasaan terhadap metode peramalan
menjadi signifikan bagi seorang manajer operasi.
Pengertian Umum
Peramalan
dapat dilakukan secara kuantitatif ataupun kualitatif. Pengukuran kuantitatif
menggunakan metode statistik, sedangkan pengukuran kualitatif berdasarkan
pendapat (judgment) dari yang melakukan peramalan. Berkaitan dengan itu,
dalam peramalan dikenal istilah prakiraan dan prediksi.
Peramalan didefinisikan sebagai
proses peramalan suatu variabel (kejadian) di masa datang dengan berdasarkan
data variabel yang bersangkutan pada masa sebelumnya. Data masa lampau itu
secara sistematik digabungkan dengan menggunakan suatu metode tertentu dan
diolah untuk memperoleh prakiraan keadaan pada masa datang.
Macam-macam Peramalan
Ada berapa macam tipe
peramalan yang digunakan. Adapun tipe-tipe dalam peramalan adalah sebagai
berikut (Jay Heizer,2005):
1. Times
Series Model
Metode
time series adalah metode peramalan secara kuantitatif dengan
menggunakan waktu sebagai dasar peramalan.
2. Causal
Model
Metode
peramalan yang menggunakan hubungan sebab-akibat sebagai asumsi, yaitu bahwa
apa yang terjadi di masa lalu akan terulang pada saat ini.
3. Judgemental
Model
Bila
time series dan causal model bertumpu pada kuantitatif, pada judgemental
mencakup untuk memasukkan faktor-faktor kuantitatif / subjektif ke dalam metode
peramalan. Secara khusus berguna bilamana faktor-faktor subjektif yang
diharapkan menjadi sangat penting bilamana data kuantitatif yang akurat sudah
diperoleh.
Klasifikasi Peramalan
Klasifikasi peramalan merupakan identitas dari peramalan
itu sendiri. Peramalan memiliki dua klasifikasi peramalan diantaranya sebagai
berikut (Jay Heizer,2005):
1. Peramalan
berdasarkan teknik penyelesaiannya, yang terdiri dari:
a. Teknik peramalan
secara kualitatif
Peramalan
yang melibatkan pendapat pribadi, pendapat ahli, metode Delphi penelitian pasar
dan lain-lain. Bertujuan untuk menggabungkan seluruh informasi yang diperoleh
secara logika, unbased & sistematis yang dihubungkan dengan faktor interest
pengambil keputusan. Beberapa teknik kualitatif yang sering dipergunakan
adalah:
a)
Delphi Method
b)
Market Research
c)
Panel Consensus
d)
Visionary Forecast
e)
Historical Analogue
f)
Management Estimate
g)
Structured Group Methods
b. Teknik peramalan
secara kuantitatif
Digunakan pada saat data masa lalu cukup tersedia.
Beberapa teknik kuantitatif yang sering dipergunakan:
a)
Time Series Model
b)
Causal Model
2.
Peramalan berdasarkan pengelompokkan horizon waktu:
a. Peramalan jangka panjang, yaitu peramalan yang jangka waktu peramalan lebih dari
24 bulan, misalnya peramalan yang diperlukan dalam kaitannya dengan anggaran
produksi.
b. Peramalan jangka menengah, yaitu peramalan yang jangka waktu peramalan antara 3-24
bulan, misalnya peramalan untuk perencanaan penjualan, perencanaan dan anggaran
produksi.
c. Peramalan jangka pendek, yaitu peramalan yang jangka waktu peramalan kurang dari
3 bulan, misalnya peramalan dalam hubungannya dengan perencanaan pembelian
material, penjadwalan kerja dan penugasan.
Komponen utama yang mempengaruhi penjualan masa lampau:
a.
Kecenderungan/Trend (T)
b.
Siklus/Cycle (C)
c.
Musim/Season (S)
d. Kejadian Luar Biasa/Erratic
Events (E)
Metode Peramalan
Model kuantitatif intrinsik sering
disebut sebagai model-model deret waktu (Time Series model). Model deret
waktu yang populer dan umum diterapkan dalam peramalan permintaan adalah
rata-rata bergerak (Moving Averages), pemulusan eksponensial (Exponential
Smoothing), dan proyeksi kecenderungan (Trend Projection). Model
kuantitatif ekstrinsik sering disebut juga sebagai model kausal, dan yang umum
digunakan adalah model regresi (Regression Causal model) (Gaspersz,
1998).
1. Weight Moving Averages (WMA)
Model rata-rata bergerak menggunakan
sejumlah data aktual permintaan yang baru untuk membangkitkan nilai ramalan
untuk permintaan di masa yang akan datang. metode rata-rata bergerak akan
efektif diterapkan apabila permintaan pasar terhadap produk diasumsikan stabil
sepanjang waktu. Metode rata-rata bergerak terdapat dua jenis, rata-rata
bergerak tidak berbobot (Unweight Moving Averages) dan rata-rata bobot
bergerak (Weight Moving Averages). Model rata-rata bobot bergerak lebih
responsif terhadap perubahan karena data dari periode yang baru biasanya diberi
bobot lebih besar.
2. Single Exponential Smoothing (SES)
Pola data yang tidak stabil atau
perubahannya besar dan bergejolak umumnya menggunakan model pemulusan
eksponensial (Exponential Smoothing Models). Metode Single
Exponential Smoothing lebih cocok digunakan untuk meramalkan hal-hal yang
fluktuasinya secara acak (tidak teratur).
Permasalahan umum yang dihadapi
apabila menggunakan model pemulusan eksponensial adalah memilih konstanta
pemulusan (α) yang diperirakan tepat. Nilai konstanta pemulusan dipilih di
antara 0 dan 1 karena berlaku 0 < α < 1. Apabila pola historis dari data
aktual permintaan sangat bergejolak atau tidak stabil dari waktu ke waktu,
nilai α yang dipilih adalah yang mendekati 1. Pola historis dari data aktual
permintaan tidak berfluktuasi atau relatif stabil dari waktu ke waktu, α yang
dipilih adalah yang nilainya mendekati nol (Gaspersz, 1998).
3. Regresi Linier
Model
analisis Regresi Linier adalah suatu metode populer untuk berbagai macam
permasalahan. Menurut Harding (1974) dua variabel yang digunakan, variabel x
dan variabel y, diasumsikan memiliki kaitan satu sama lain dan bersifat linier.
Ukuran Akurasi Peramalan
Model-model peramalan yang dilakukan
kemudian divalidasi menggunakan sejumlah indikator. Indikator-indikator yang
umum digunakan adalah rata-rata penyimpangan absolut (Mean Absolute
Deviation), rata-rata kuadrat terkecil (Mean Square Error),
rata-rata persentase kesalahan absolut (Mean Absolute Percentage Error),
validasi peramalan (Tracking Signal), dan pengujian kestabilan (Moving
Range).
1. Mean Absolute Deviation (MAD)
Metode untuk mengevaluasi metode
peramalan menggunakan jumlah dari kesalahan-kesalahan yang absolut. Mean
Absolute Deviation (MAD) mengukur ketepatan ramalan dengan
merata-rata kesalahan dugaan (nilai absolut masing-masing kesalahan). MAD
berguna ketika mengukur kesalahan ramalan dalam unit yang sama sebagai deret
asli.
2. Mean Square Error (MSE)
Mean Squared Error (MSE) adalah
metode lain untuk mengevaluasi metode peramalan. Masing-masing kesalahan atau
sisa dikuadratkan. Kemudian dijumlahkan dan ditambahkan dengan jumlah
observasi. Pendekatan ini mengatur kesalahan peramalan yang besar karena
kesalahan-kesalahan itu dikuadratkan.
3. Mean Absolute Percentage Error
(MAPE)
Mean
Absolute Percentage Error (MAPE) dihitung dengan menggunakan kesalahan absolut
pada tiap periode dibagi dengan nilai observasi yang nyata untuk periode itu.
Kemudian, merata-rata kesalahan persentase absolut tersebut. Pendekatan ini
berguna ketika ukuran atau besar variabel ramalan itu penting dalam
mengevaluasi ketepatan ramalan.
4. Tracking Signal
Validasi peramalan dilakukan dengan Tracking
Signal. Tracking Signal adalah suatu ukuran bagaimana baiknya suatu
peramalan memperkirakan nilai-nilai aktual.
Tracking
signal yang positif menunjukan bahwa nilai aktual permintaan lebih besar daripada
ramalan, sedangkan tracking signal yang negatif berarti nilai aktual
permintaan lebih kecil daripada ramalan. Tracking signal disebut baik
apabila memiliki RSFE yang rendah, dan mempunyai positive error yang
sama banyak atau seimbang dengan negative error, sehingga pusat dari tracking
signal mendekati nol. Tracking signal yang telah dihitung dapat
dibuat peta kontrol untuk melihat kelayakkan data di dalam batas kontrol atas
dan batas kontrol bawah.
5. Moving Range (MR)
Peta Moving Range dirancang
untuk membandingkan nilai permintaan aktual dengan nilai peramalan. Data
permintaan aktual dibandingkan dengan nilai peramal pada periode yang sama.
Peta tersebut dikembangkan ke periode yang akan datang hingga dapat
dibandingkan data peramalan dengan permintaan aktual. Peta Moving Range
digunakan untuk pengujian kestabilan sistem sebab-akibat yang mempengaruhi
permintaan.
Jika ditemukan satu titik yang
berada diluar batas kendali pada saat peramalan diverifikasi maka harus
ditentukan apakah data harus diabaikan atau mencari peramal baru. Jika ditemukan
sebuah titik berada diluar batas kendali maka harus diselidiki penyebabnya.
Penemuan itu mungkin saja membutuhkan penyelidikan yang ekstensif. Jika semua
titik berada di dalam batas kendali, diasumsikan bahwa peramalan permintaan
yang dihasilkan telah cukup baik. Jika terdapat titik yang berada di luar batas
kendali, jelas bahwa peramalan yang didapat kurang baik dan harus direvisi
(Gaspersz, 1998).
Kegunaan peta Moving Range
ialah untuk melakukan verifikasi hasil peramalan least square terdahulu.
Jika peta Moving Range menunjukkan keadaan diluar kriteria kendali. Hal
ini berarti terdapat data yang tidak berasal dari sistem sebab-akibat yang sama
dan harus dibuang maka peramalan pun harus diulangi lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar